Loading...

Jumat, 15 Juni 2012

Industri AMDK

ASPEK OPERASIONAL :

  • Sekretaris Jenderal Asosiasi Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan Indonesia (Aspadin), Rembang Karyo menjelaskan produk AMDK wajib memenuhi Standar Nasional Indonesia  (SNI) mulai Juli 2010 (gatra.com tgl.23-03-2010). Setiap produk AMDK wajib mencantumkan label yang berisi keterangan tentang produk mereka, apakah tergolong produk air mineral atau produk air demineral (tidak mengandung mineral).
  • Proses produksi AMDK (klm-micro.com/blog/pedoman-proses-amdk):
1.  Bahan Baku
Beberapa hal yang harus dilakukan untuk menjamin mutu air baku meliputi:
a.  Pemeriksaan organoleptik meliputi pemeriksaan bau, rasa, warna dan penampakan
b.  Sumber air baku haru terlindung dari cemaran E.coli
2.  Mesin/Peralatan
a.  Bahan mesin/peralatan
Seluruh mesin/peralatan yang kontak langsung dengan air baku harus dibuat dari bahan yang foodgrade.
b.  Jenis mesin/peralatan
Mesin/peralatan yang harus ada dalam proses produksi AMDK:
                              i.  Bak atau tangki penampung air baku
                             ii.  Mesin/peralatan pada unit pengolahan air, terdiri dari:
-       Saringan dari pasir (sand filter)
-       Saringan dari karbon aktif (carbon filter)
-       Alat pembuat ozon (ozon generator)
-       Tangki pencampuran ozon (ozon mixing tank)
                            iii.  Alat pencuci kemasan (bottle washer)
                            iv.  Mesin pengisi kemasan
                             v.  Mesin penutup kemasan (capping machine)
3.  Fasilitas Laboratorium
Peralatan laboratorium pengawasan mutu harus mampu menganalisa parameter uji mikrobiologi dan uji fisio-kimia yang minimal diperlukan. Peralatan yang harus dimiliki antara lain:
-       Otoklaf
-       Oven
-       Inkubator
-       Pld meter
-       Konduktivitimeter
-       Turbidimeter
-       Peralatan pengujian mikrobiologi
-       Peralatan gelas
4.  Proses produksi
Pada dasarnya, AMDK diproses melalui 3 tahap yaitu: penyaringan, desinfeksi, dan pengisian. Penyaringan dimaksudkan untuk menghilangkan kotoran dan bau yang terkandung dalam air. Desinfeksi bertujuan untuk menghilangkan sebagian besar mikroba dan membunuh bakteri patogen dalam air. Pengisian merupakan tahap akhir berupa pengemasan air yang telah diproses.
Urutan proses produksi AMDK sbb:
a.  Penampungan air baku dan syarat bak penampung
Air baku ditampung dalam bak atau tangki penampung (reservoir). Bak tersebut harus dibuat dari bahan yang food grade, harus bebas dari bahan-bahan yang dapat mencemari air. Bila sumber air letaknya jauh dari pabrik, maka air tersebut dapat dialir melalui pipa yang food grade atau diangkut menggunakan tangki. Tangki tersebut harus dibuat dari bahan yang food grade dan mudah dibersihkan serta didesinfeksi.
b.  Penyaringan

-      Saringan berasal dari pasir atau saringan lain yang efektif dengan fungsi yang sama.
Fungsi saringan pasir adalah menyaring partikel-partikel yang kasar. Bahan yang dipakai adalah butir-butir silica (SiO2) minimal 95%. Ukuran butir-butir yang dipakai tergantung dari mutu kejernihan air yang dinyatakan dalam NTU.
-      Saringan karbon aktif.
Fungsi saringan karbon aktif adalah sebagai penyerap bau, rasa, warna, sisa khlor, dan bahan organik. Bahan karbon aktif bisa berasal dari batubara atau batok kelapa. Daya serap terhadap I2 minimal 75% (SII-0258-88).
-      Mikro filter
Fungsi mikro filter adalah sebagai saringan halus berukuran maksimal 10 mikon.
c.  Desinfeksi
Desinfeksi dimaksudkan untuk membunuh kuman patogen. Proses desinfeksi berlangsung dalam tangki pencampur ozon dan selama ozon masih ada dalam kemasan. Kadar ozon pada tangki pencampur minimal 2 ppm dan residu ozon sesaat setelah pengisian berkisar antara 0,0 – 0,4 ppm. Pemeriksaan kadar ozon dilakukan secara periodik dan didokumentasikan dalamadministrasi perusahaan. Tindakan desinfeksi selain menggunakan ozon, dapat ditambahkan cara lain yang efektif seperti penyinaran sinar ultra violet (UV).

d.  Pencucian kemasan
Botol kaca dan botol yang terbuat dari polikarbonat yang dapat dipakai ulang harus dicuci dan disanitasi dalam mesin pencuci botol. Untuk membersihkan botol dapat digunakan berbagai detergen yang food grade dengan suhu 60-85°C. Sedangkan untuk sanitasi botol dapat digunakan air ozon atau desinfektan lain yang food grade. 

e.  Pengisian dan penutupan
Pengisian dan penutupan botol atau gelas dilakukan dengan mesin pengisian dan penutup botol atau gelas dalam ruang pengisian yang bersih dan saniter. Suhu dalam ruang pengisian maksimal 25°C.

f.   Kemasan
Kemasan AMDK dapat dibuat dari polietilen (PE), polipropilen (PP), polietilen tereflatat (PET), polivinil klorida (PVC), polikarbonat (PC), atau kaca yang memenuhi SNI 12-0037-1987. Dilarang keras menggunakan kemasan bekas dengan bahan baku PE, PP, PET atau PVC, sedangkan kemasan dengan bahan baku PC atau kaca harus mempunyai desain yang mudah dicuci dan dapat dipakai ulang sepanjang masih layak digunakan.

g.  Pengendalian dan Pengujian Mutu
Pengendalian dan pengujian mutu untuk menjamin tercapainya mutu sesuai SNI yang berlaku dilakukan dengan cara mengambil 2 sampel pada saat pembotolan dimana 1 sampel diuji pada saat itu dan 1 sampel lainnya diuji pada hari keenam. Parameter yang harus diuji adalah:
-      Keadaan air: bau, rasa, warna
-      pH
-      Kekeruhan
-     Cemaran mikroba: angka lempeng total, bakteri bentuk coli C.perfringens, salmonella.




ASPEK PEMASARAN :

a.    Potensi
  •  Menurut Ketua Badan Pendukung Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (BPPSPAM), potensi bisnis air di Indonesia memang menggiurkan (wartaekonomi.co.id tgl.25-06-2009). Sampai tahun 2008, PDAM baru bisa melayani kebutuhan sekitar 40% penduduk perkotaan dan 8% penduduk pedesaan, sedangkan kebutuhan akan air bersih tumbuh 1,5% per tahun.
  • Potensi bisnis AMDK masih terbuka lebar (wartaekonomi.co.id tgl.26-06-2009). Hal ini karena:
-     Sekitar 65% tubuh manusia terdiri dari air. Ini setara dengan kurang lebih 47 liter air pada setiap orang dewasa. Setiap hari, 2,5 liter dari volume air tersebut harus diganti dengan air yang baru. Dari volume air yang harus diganti, sekitar 1,5 liter berasal dari air minum.
-     Sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk, kebutuhan akan air minum pun terus meningkat. Untuk masyarakat perkotaan, hampir pasti sumber-sumber mata air yang ada tidak dapat memenuhi seluruh kebutuhan mereka akan air minum. Selain karena volumenya terbatas, sumber-sumber mata air yang ada di perkotaan rata-rata sudah tercemar limbah atau bahan lainnya, sehingga tidak layak konsumsi.
  • Bisnis AMDK diperkirakan bakal  mencapai titik jenuh ketika volume produksi nasional mencapai 20 milyar liter atau setara dengan 80 liter per kapita per tahun (wartaekonomi.co.id tgl.26-06-2009). Padahal pada tahun 2009 volume produksi nasional baru mencapai 12,8 milyar liter – sekitar 88% dari total kapasitas produksi nasional sebesar 14,5 milyar liter.
  •  Bisnis AMDK relatif tahan terhadap krisis ekonomi (wartaekonomi.co.id tgl.26-06-2009). Pada krisis ekonomi 1998, produksi makanan dan minuman terkena imbas paling akhir. Sedangkan pada krisis ekonomi 2009, kondisi bisnis masih cukup baik meskipun mengalami stagnan.
  • Tingkat konsumsi AMDK Indonesia relatif masih rendah jika dibandingkan negara lain (wartaekonomi.co.id tgl.26-06-2009). Tingkat konsumsi AMDK nasional pada 2009 mencapai 45 liter per kapita per tahun. Pada tahun 2007, di Thailand, sudah mencapai 95 liter, sedangkan pada tahun 2005 di Perancis mencapai140 liter dan di Italia 165 liter.
b.    Permintaan
  • Ketua Umum Asosiasi Air Kemasan Indonesia (AMDK) Hendro Baruno menyatakan konsumsi AMDK terus mengalami peningkatan, rata-rata tumbuh 11-12 persen per tahun (sindonews.com tgl.18-01-2012).  Pada 2011, konsumsi AMDK mencapai 17,9 miliar liter dan pada tahun 2012 diperkirakan bisa mencapai 19,8 miliar liter.
  • Sepanjang 2011, penurunan konsumsi AMDK terjadi bulan Februari karena faktor musim hujan dan Agustus karena bertepatan dengan bulan puasa. Memasuki September hingga Desember 2011, konsumsi AMDK berada pada titik tertinggi, yakni 1,6 miliar liter per bulan (sindonews.com tgl.18-01-2012). Konsumsi tertinggi terjadi di kawasan Jabodatabek yakni 39 persen. Untuk keseluruhan pulau Jawa adalah 40 persen dan daerah lainnya 21 persen.
  • Ketua Aspadin Jateng, Willy Bintoro Chandra, menyatakan penjualan AMDK di Jateng tahun 2010 diperkirakan tumbuh 10%-15%, menjadi sekitar 1,5 milyar liter per tahun (suaramerdeka.com tgl. 15-03-2010). Jumlah ini sekitar 20% dari prediksi penjualan nasional.
b. Target Pasar
  • Peta dan penguasaan pasar AMDK tidak merata (wartaekonomi.co.id tgl.26-06-2009). Sekitar 70% pasar AMDK ada di Jawa.
  • Sekitar 39% atau 4,99 milyar liter dari total produksi AMDK pada 2009 dikonsumsi di wilayah Jabodetabek (web.bisnis.com tgl.24-03-2010). Kemudian 40% konsumsi didominasi Jawa Barat, Jawa timur dan Jawa Tengah.
c.   Kondisi Persaingan
  • Saat ini, ada sekitar 1.500 merek AMDK di Indonesia (sindonews.com tgl.18-01-2012).
  • Persaingan bisnis AMDK di Pulau Jawa sangat ketat karena banyaknya produsen AMDK (m.suaramerdeka.com tgl.29-06-2009). Di wilayah Jateng – DIY, tercatat ada 22 perusahaan di Jateng dan 1 perusahaan di DIY.
  • Berdasarkan data Aspadin, anggota asosiasi tersebut mencapai 165 perusahaan (wartaekonomi.co.id tgl.25-06-2009). Di luar Aspadin, terdapat 185 perusahaan AMDK lain yang masih aktif berproduksi. Semua perusahaan, baik yang menjadi anggota Aspadin maupun tidak, menjual sekitar 600 merk AMDK.
  • Di antara anggota Aspadin, merk Aqua menguasai sekitar 45%-55% pangsa pasar AMDK di Indonesia (wartaekonomi.co.id tgl.26-06-2009). Pemain lainnya seperti Ades, Sosro (Prim-A), Club dan 2 Tang menguasai 30%-35%.
  • Industri AMDK juga menghadapi persaingan dengan produk air minum isi ulang yang berpotensi menggerus omzet industri AMDK (web.bisnis.com tgl.25-07-2009). Ketua Aspadin Indonesia, Willy Sidharta mengungkapkan terdapat sekitar 4.000 unit usaha air minum isi ulang di Indonesia pada 2008, sekitar 5%-7% di antaranya atau 200-280 perusahaan menjual produknya ke pasar ritel. Setiap perusahaan diperkirakan memproduksi sekitar 40 botol air isi ulang per hari ke pasar ritel.
  • Profil industri AMDK
Uraian
2006
2007
2008
Jumlah perusahaan (unit)
490
518
528
Total kapasitas (milyar liter)
11,5
13,0
14,5
Produksi riil (milyar liter)
10,3
11,6
13,0
Jumlah tenaga kerja (orang)
25.326
26.537
27.806
Sumber: Depperin (2009).


d.   Strategi usaha
Strategi usaha yang dapat dilakukan oleh pemain dalam industri AMDK adalah:
-     Menjaga kualitas/mutu produk AMDK.
-     Distribusi/jaringan pemasaran yang luas.
-     Sarana armada distribusi yang memadai.
-     Harga produk yang bersaing.
-     Layanan antar ke pelanggan.
-     Promosi.

e.      Saluran pemasaran
-       Saluran pemasaran langsung, yaitu penjualan kepada pengguna akhir.
             -   Saluran pemasaran tak langsung, yaitu penjualan melalui distributor atau agen

Tidak ada komentar: