Loading...

Selasa, 03 Juni 2008

Industri Kayu Sengon

Kayu Albasia (Sengon)

  • Munculnya pasar untuk peralatan rumah tangga, peti kemas, pulp daln lain-lain telah mendorong masyarakat di Jawa untuk membudidayakan kayu (hutan rakyat). Kayu yang banyak dibudidayakan adalah kayu sengon, jati dan mahoni (Sumardjani dan Waluyo, 2007). Kayu sengon banyak digunakan untuk peti kemas; pulp; perabot rumah tangga (meja. kursi, dipan, almari); bahan bangunan (usuk, reng). Kayu jati atau mahoni dan kayu keras lainnya lebih digunakan untuk perabot rumah tangga dan bahan bangunan rumah yang tergolong mewah.
  • Keterbatasan kayu keras menjadikan industri kayu primer beralih bahan baku dari kayu keras menjadi kayu lunak, terutama albasia (latin: Albizia falcataria). Pasokan kayu dari hutan rakyat telah membentuk pasar kayu albasia dan industri pengolahan kayu albasia di daerah Jawa Tengah. Menurut Hery Santoso (2006), potensi tanaman hutan rakyat di pulau Jawa sampai dengan 2005 sebagai berikut:

Jenis Tanaman

Kuantitas

Jati

79,7 juta pohon

Sengon

59,8 juta pohon

Mahoni

45,3 juta pohon

Sumber: Hery Santoso (2006).

  • Dilihat dari jenisnya, kayu jati merupakan kayu favorit pilihan hampir 3 juta rumah tangga, dengan rata-rata pemilikan lebih dari 25 pohon per rumah tangga. Jenis berikutnya yang banyak ditanam adalah sengon, yang ditanam oleh 2 juta rumah tangga, baru kemudian mahoni, akasia dan pinus.

Jenis Tanaman

Rumah Tangga Pengelola (juta)

Jumlah Pohon (juta)

Persentase pohon siap tebang (%)

Konsentrasi Wilayah

Jati

3,05

79,71

23,14

Jateng

Sengon

2,32

59,83

24,61

Jateng

Mahoni

2,31

45,26

41,11

Jateng, Jabar

Akasia

1,20

32,20

37,69

Jatim, Jateng

Pinus

0,16

5,82

46,12

Jatim, Sumut

Sumber: Hery Santoso (2006).

  • Wonosobo terdiri atas 256 desa yang meliputi hampir 99.000 hektar. Kabupaten ini dihuni oleh 768.000 orang dan 80% diantaranya adalah petani. Hutan rakyat meliputi sekitar 19.000 hektar (Asia Forest Network, 2006). Area hutan rakyat terbesar berada di Kaliwiro dan Sapuran. Di Indonesia, albasia disamakan dengan tanaman pertanian sehingga peraturan mengenai penanaman dan penebahan albasia dari hutan rakyat tidak seketat tanaman yang tumbuh di hutan Negara seperti jati. Dengan demikian, pertanian albasia tidak diawasi secara ketat oleh Departemen Kehutanan dan Departemen Lingkungan Hidup karena tidak merusak hutan alam (illegal logging).
  • Menteri Kehutanan MS Kaban memberikan apresiasi tinggi terhadap Gerakan Wonosobo Menanam tahap kedua yang dicanangkan tanggal 21 November 2007 di kawasan Dieng Wonosobo (Radar Semarang tanggal 22 November 2007). Sebanyak 1,25 juta bibit ditanam di 15 kecamatan dengan menghabiskan anggaran Rp 2 miliar yang berasal dari swadaya, Pemkab Wonosobo, masyarakat dan sponsor. Gerakan Wonosobo Menanam diikuti serentak oleh anak-anak sekolah dan berbagai komponen masyarakat di 15 kecamatan dan 265 desa kelurahan di Wonosobo. Bibit yang ditanam selain berasal dari pemerintah , Perhutani, jajaran instansi Jateng juga swadaya anak-anak sekolah dan dari sponsor. Seperti Geo Dipa Energi, PT Tirta Investama Wonosobo, CV Mekar Abadi, Danon, SSWI, PT Djarum, Tunas Madukoro, Pemberdayaan Masyarakat Bambu, PT Indonesia Power, Rotary Club Semarang Bojong, perbankan termasuk BTPN.
  • Daftar Rendemen Kayu Olahan

No.

Industri

Asal Bahan Baku

Rendemen (%)

I. PANEL KAYU

1.

Kayu Lapis

Kayu bulat (log)

52 – 62

Kayu bulat karet

20 – 37

Veneer sengon (core) + kayu bulat dimater besar (face back)

65 – 69

2.

Kayu Lapis + Papan Blok

Kayu bulat

57 – 66

3.

Kayu Lapis Indah (core kayu lapis biasa)

Kayu bulat

40 – 41

4.

Kayu Lapis + Papan Blok + Papan Partikel

Kayu bulat

60 – 69

5.

Kayu Lapis + Papan Blok + Papan Partikel + Kayu Lapis Indah

Kayu bulat

63 – 73

6.

Veneer Indah (slice)

Kayu bulat

27 – 31

7.

Veneer (rotary)

Kayu bulat diameter besar

71 – 75

Kayu bulat diameter kecil (spindleless)

80 – 89

8.

Papan Partikel

Kayu bulat

24 – 65

9.

Laminating Veneer Lumber (LVL)

Kayu bulat

48 – 60

10.

Bare Core

Kayu bulat

37 – 53

11.

MDF

BBS

42 – 55

II. KAYU SOLID

1.

Penggergajian

Kayu bulat hutan alam

53 – 72

Kayu bulat hutan

35 – 50

Tanaman kayu bulat karet

20 – 30

2.

Papan Sambung (finger jointed laminated board)

Kayu bulat

34 – 45

3.

Bilah Sambung (finger jointed stick)

Kayu bulat

31 – 33

4.

Moulding

Kayu bulat

32 – 52

Kayu gergajian

51 – 64

Papan sambung

70 – 80

Bilah sambung

70 – 80

III. CHIP

1.

Chip

BBS

87 – 97

(belum disaring)

47 – 56

(sudah disaring & kering udara)






Sumber : Lampiran Surat Direktur Jenderal Bina Produksi Kehutanan, Nomor : S. 948/VI-BPPHH/2004 Tanggal 26 Oktober 2004.


Industri kayu di Jawa Tengah

  • Di Jawa Tengah, terdapat 838 industri kayu primer yang terdiri dari industri kilang gergaji (sawmill), industri papan laminasi (laminated board), industri cetakan kayu (moulding), dan industri pengolahan kayu seperti halnya industri kayu lapis (plywood). Industri kayu primer di Jawa Tengah didominasi oleh industri kilang gergaji. (PT. Chazaro Gerbang International, 2006). Industri kilang gergaji untuk kayu albasia sebagian besar terkonsentrasi di pegunungan Sindoro-Sumbing-Merbabu, Temanggung, Wonosobo dan Magelang. Di daerah tersebut terdapat ratusan industri kilang gergaji skala kecil yang menghabiskan bahan baku sampai 100 meter kubik per bulan.
  • Dari data th 2005 yang dicatat oleh Kantor Kehutanan dan Kantor Industri, Perdagangan & Koperasio (INDAKOP), di Jawa Tengah terdapat 2.954 industri primer dan sekunder yang berbahan dasar kayu. Industri primer terdiri dari 40 industri papan laminasi dan papan penyambung-gerigian, 838 unit kilang gergaji, 450 pabrik kayu cetak dan 364 industri pengolahan kayu termasuk 2 industri kayu lapis. Industri sekunder terutama terdiri dari furniture dan pekerjaan kayu masing-masing sebesar 1.232 dan 28 unit. Produksi furniture terpusat di daerah Jepara, Klaten, Sukoharjo dan Sragen. Sedangkan pekerjaan kayu, seperti galangan kapal, berada di daerah Brebes.
  • Industri primer di Jawa Tengah didominasi industri kilang gergaji. Dari survey lapangan di sepanjang Kabupaten Temanggung dan Wonosobo terdapat sedikitnya 200 unit kilang gergaji yang beroperasi. Kilang gergaji tersebut biasanya dimiliki oleh perorangan. Keterbatasan kayu keras membuiat industri kayu mengubah bahan baku dari kayu keras menjadi kayu lunak seperti kayu albasia. Potensi pasokan kayu albasia dari hutan rakyat telah menciptakan pasar kayu albasia dan perkembangan industri pengolahan kayu di daerah Jawa Tengah.

Tabel. Jumlah industri pengolahan kayu di Jawa Tengah

No

Kabupaten

Papan Laminasi

Kilang gergaji

Pencetakan kayu

Pengolahan kayu

Kayu lapis

Mebel

Kerajinan

Total

1

Banjarnegara

-

107

-

28

-

-

-

135

2

Banyumas

3

137

-

4

-

1

-

145

3

Batang

2

23

-

-

-

1

-

26

4

Blora

-

29

-

12

-

40

-

81

5

Boyolali

-

-

-

82

-

-

-

82

6

Brebes

-

11

113

-

-

15

14

153

7

Cilacap

-

359

-

-

-

-

-

359

8

Demak

-

3

2

4

-

-

-

9

9

Grobogan

-

-

10

-

-

90

-

100

10

Jepara

-

24

-

-

-

398

-

422

11

Karanganyar

-

-

-

99

-

-

-

99

12

Kebumen

2

61

-

-

-

-

-

63

13

Kendal

-

4

33

5

-

45

4

91

14

Klaten

-

-

33

-

-

-

-

33

15

Kudus

-

5

-

7

-

4

-

16

16

Magelang

5

-

21

-

-

31

-

57

17

Pati

-

-

25

-

-

2

-

27

18

Pekalongan

-

-

-

26

-

11

-

37

19

Pemalang

-

-

-

-

-

82

-

82

20

Purbalingga

10

27

6

2

-

30

-

75

21

Purworejo

2

1

10

-

-

2

-

15

22

Rembang

-

-

30

-

-

151

7

188

23

Semarang

1

38

17

31

1

69

3

160

24

Sragen

-

-

-

30

-

50

-

80

25

Sukoharjo

-

-

-

-

1

116

-

117

26

Tegal

-

8

7

4

-

3

-

22

27

Temanggung

12

-

21

22

-

10

-

65

28

Wonogiri

-

-

52

-

-

72

-

124

29

Wonosobo

3

1

70

8

-

9

-

91


T O T A L

40

838

450

364

2

1232

28

2954

Sumber : INDAKOP (2005).

  • Keberadaan industri kayu berperan penting terhadap pengembangan ekonomi masyarakat sekitar. Sektor industri ini telah membuka lapangan kerja bagi banyak orang. Industri kayu mencakup kilang gergaji, kayu lapis, panel kayu, mebel, komponen bangunan, bahan untuk lantai, papan partikel, kayu cetak, papan penyambung-gerigian, dan kerajinan kayu. Industri kayu di Jawa Tengah tumbuh pesat di daerah Kabupaten Ambarawa, Wonosobo dan Temanggung.
  • · Permintaan kayu sebagai bahan baku untuk industri kayu di Jawa Tengah telah meningkat seiring dengan meningkatnya populasi dan kebutuhan manusia. Pada tahun 2006, tercatat ada 2.663 industri kayu yang terdiri dari 318 industri kayu skala besar dan 2.345 industri kayu skala kecil dengan total kebutuhan bahan baku sebanyak 6 juta meter kubik per tahun (3,6 juta meter kubik untuk industri skala besar dan 2,4 juta meter kubik untuk industri skala kecil). Area hutan di Provinsi Jawa Tengah meliputi sekitar 647.596 Ha yang dikelola oleh Perum Perhutani I (perusahaan umum milik negara) dan hutan rakyat seluas 219.787 Ha. Perum Perhutani I Jawa Tengah memasok sekitar 340.000 meter kubik per tahun, sedangkan hutan rakyat memasok 1,7 juta meter kubik per tahun. Lainnya sebesar 3,98 juta meter kubik per tahun diperoleh dari provinsi lain seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua dan sebagian diimpor dari negara lain. Kayu impor sebagian besar untuk memasok kebutuhan kayu industri besar.


Kondisi supply dan demand

  • Produksi veneer (meter kubik) dari hutan alam di Jawa Tengah dan Nasional tahun 2002 – 2006 sebagai berikut:

Keterangan

2003

2004

2005

2006

Jawa Tengah

19.911

15.439

*)

28.787

Nasional

289.191

155.374

*)

255.729

Keterangan : *) = tidak tersedia

Sumber: Direktorat Jenderal Bina Produksi Kehutanan (2007)

  • Produksi veneer menempati urutan kedua di antara produk kayu olahan lainnya.

Tabel. Volume Produksi Kayu Olahan 2006

Nama Produk

Volume Produksi

Blockboard

3.826.455 m3

Veneer

10.314.398 m3

Particle Board

1.919.708 m3

Chipwood

2.653.468 m3

Pulp

18.869.111 ton

Moulding

3.945.878 m3

Dowel

20.140 m3

Woodworking

1.527.466 m3

Sumber: Bina Produksi Hutan (2007)

Substitusi

Keterbatasan pasokan kayu dari hutan alam dan distribusinya yang kerap menjadi persoalan menyebabkan harga menjadi tinggi, sehingga perlu mencari sumber pasokan alternatif seperti HTI, hutan hak/hutan rakyat, dan kayu eks perkebunan.

Peran bahan baku dari hutan alam yang selama ini lebih mendominasi kebutuhan industri kayu perlahan-lahan mulai beralih, karena beberapa tahun terakhir ini peran hutan tanaman atau secara khusus hutan hak/hutan rakyat mulai meningkat. Bahkan ke depan pasokan bahan baku dari hutan hak/hutan rakyat dapat menggantikan peran hutan alam.

Bukti bahwa hutan rakyat atau hutan hak mulai meningkat perannya terlihat dari produk-produk kayu seperti Bayur, Durian, Jabon, Karet, Kemiri, Sengon, Suren, Sungkai, dll. yang mulai banyak diminati oleh pasar. Sebut saja produk plywood telah menggunakan Sengon, Durian, Jabon, Bayur sebagai core, juga untuk finger joint laminating board, barecore, engineering doors, dan packaging boxes. Peningkatan penggunaan bahan baku dari hutan rakyat terlihat dari data Badan Revitalisasi Industri Kehutanan (BRIK) tahun 2004-2006 dimana persentase ekspor produk kayu olahan yang menggunakan bahan baku dari hutan rakyat berkisar antara 38-40%, berarti hampir separuh dari volume ekspor produk kehutanan telah menggunakan bahan baku dari sumber-sumber alternatif.

Kayu albasia (sengon) merupakan substitusi kayu keras terutama dari Kalimantan, karena sedikitnya bahan baku kayu keras, umur panen albasia relatif pendek dan harga yang bersaing.

Harga kayu albasia relatif lebih murah dibandingkan dengan kayu lain seperti kayu jati atau kayu mahoni (www.tasikmalaya.go.id tanggal 17 Maret 2008) , selain itu karena dalam tempo lima tahun tanam sudah dapat ditebang, maka perputaran investasi pada tanaman albasia relatif lebih cepat apabila dibandingkan dengan investasi pada tanaman kayu jati dan sejenisnya.

1 komentar:

Indartik mengatakan...

saya tertarik dengan analisis tentang industri kayu sengon, untuk melengkapi tugas saya,saya perlu daftar pustaka agar bisa saya runut lebih lanjut, makasih