zwani.com myspace graphic comments

Minggu, 19 Oktober 2008

Industri Batubara

aACadangan Batu Bara

·   Badan Geologi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan cadangan batu bara terbukti Indonesia mencapai 5,3 miliar ton. Jika produksi batu bara nasional mencapai 200 juta ton per tahun, maka cadangan batu bara yang ada akan habis dalam 26,5 tahun. Dari cadangan itu, sebanyak 4,395 miliar ton atau 83% berlokasi di Kalimantan sedangkan sisanya berada di wilayah Sumatra (www.mediaindonesia.com tanggal 17 Desember 2007).  

·   Cadangan batu bara terkira berada di Sumatra 12,998 miliar ton dan Kalimantan 413 juta ton. Jika dihitung berdasarkan cadangan terkira Indonesia yang mencapai 13,411 miliar ton, maka batu bara akan habis dalam 67 tahun (www.mediaindonesia.com tanggal 17 Desember 2007). 

·   Potensi sumber daya batu bara di Jawa sebesar 14 juta ton, Sumatra 53,824 miliar ton, Kalimantan 36,225 miliar ton, Sulawesi 233 juta ton, Maluku 213 juta ton, dan Papua 153 juta ton. Jika dihitung berdasarkan potensi sumber daya batu bara Indonesia yang mencapai 90,452 miliar ton, maka batu bara akan habis 452 tahun (www.mediaindonesia.com tanggal 17 Desember 2007). 

·   Menurut Menteri ESDM, total 60.5 miliar ton deposit batubara telah ditemukan di Indonesia, 7 miliar ton diantaranya digolongkan cadangan terbukti. Pertambangan batubara sebagian besar terletak di Kalimantan dan Sumatra dengan cadangan terkira masing-masing 32.9 miliar ton dan 27.3 miliar ton.

Profil sumber energi Indonesia

Jenis bahan bakar fosil

Sumber

Cadangan

(Terbukti + Terkira)

Produksi (tahunan)

Cadangan/Produksi Rasio (tanpa eksplorasi) Tahun

Minyak mentah

86.9 miliar barrel

9 miliar barrel

500 juta barrel

18

Gas

384.7 TSCF

182 TSCF

3.0 TSCF

61

Batubara

57 miliar ton

19.3 miliar ton

130 juta ton

147

Sumber: Blueprint Pengelolaan Energi Nasional 2005.

 

Jenis Batu Bara

·   Batubara Indonesia pada umumnya berkisar nilai panas rendah sampai medium.

-    Low           25.0%

-    Medium     59.0%

-    High           14.9%

-    Very High   1.1%

Sumber: Indonesia Coal Book 2006/2007

·   Berdasarkan kualitasnya, batu bara dapat dikategorikan berkualitas sangat tinggi  jika kadar zat terbang (volatile matter-nya) tinggi, sehingga mampu menghasilkan nilai bakar mencapai 7.000 kilokalori (kkal) per kilogram atau lebih. Sementara itu, batu bara kualitas rendah atau batu bara muda (brown coal lignite) ditandai dengan kadar air yang tinggi sehingga hanya memiliki nilai bakar sekitar 5.000 kkal per kilogram atau kurang. Sekitar 60% batu bara di Tanah Air berkualitas sedang, dengan nilai bakar 5.000–6000 kkal per kilogram. Adapun sisanya berkualitas rendah 24%, berkualitas tinggi 13%, dan sangat tinggi 1% (www.wartaekonomi.com tanggal 02 Agustus 2007).                                   

·   Produsen batubara Indonesia biasanya menjual batubara sebagian besar sebagai batubara campuran untuk memenuhi kualitas dan standar tertentu oleh konsumen. Contoh, Adaro mengapalkan batubara ke Amerika Serikat dalam bentuk campuran untuk memenuhi standar polusi udara. Contoh lain, BUMI mencampur batubara bituminous dan sub-bituminous untuk memenuhi kualitas tertentu karena dijual dengan merek seperti Prima Coal, Pinang Coal, Senakin Coal dll.

·   Batubara bituminous terutama digunakan konsumen dalam pembangkit listrik dan industri baja di negara berkembang karena sifat pembakaran lebih bersih dan kadar energi lebih tinggi. Sedangkan batubara sub-bituminous digunakan di pabrik pembangkit listrik di negara kurang berkembang karena harganya lebih murah.

Empat jenis batubara berdasarkan komponen geologis dan kualistasnya (nilai panas).

Jenis

Kualitas

Nilai kalori (kkal/kg)

Lignite

Low

<5100

Sub-bituminous

Medium

5100 – 6100

Bituminous

High

6100 – 7100

Anthracite

Very High

>7100

Sumber: Indonesia Coal Book 2006/2007

Industri Batu Bara

·   Menurut Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia Soedjoko Tirtosoekotjo, ada beberapa cara yang bisa dilakukan dalam menjalankan bisnis batu bara (www.swa.co.id tanggal 10 Juli 2006), yaitu:

1.      Memperoleh konsesi dengan mengajukan izin penyelidikan umum, eksplorasi hingga eksploitasi.

2.      Joint venture dengan pemilik konsesi yang sudah ada

3.      Mengakuisisi perusahaan pertambangan yang sudah beroperasi

4.      joint operation yaitu operasi penambangan akan diserahkan untuk dikelola perusahaan lain.

5.      Pedagang (trader), yang menghubungkan pihak pembeli dengan produsen.

·   Harga batubara diprediksi bisa menembus USD 81 per ton di triwulan
IV-2008 atau tumbuh 38,8% dari posisi triwulan I-2008 (www.detikfinance tanggal 30 April 2008). Namun pada 19 Mei 2008 harga batubara terpantau berada pada US$ 108,75. sehingga harga batubara telah naik 90,79% selama 100 hari terakhir dan naik 88,31% selama tahun 2008 (www.vibiznews.com tanggal 19 Mei 2008). Pada 30 Mei 2008, harga batu bara untuk pembangkit (thermal coal) di pelabuhan Newcastle, Australia, yang tercermin dalam indeks globalCOAL NEWC telah mencapai USD 151,70 per ton. Harga ini dua kali lipat lebih dibandingkan harga awal tahun 2008 yang baru sebesar USD 56,35 per ton. Kondisi ini disebabkan lalu lintas pelabuhan yang terganggu sehingga menghambat pengapalan batu bara padahal permintaan batu bara tengah melonjak akibat perusahaan listrik India mengimpor batu bara dua kali lebih banyak dari biadanya dan China membatasi ekspor batu bara.
Pengamat perminyakan dan energi, Kurtubi menilai peningkatan harga minyak juga ikut memicu kenaikan harga batu bara dan meramalkan harga batu bara akan menembus USD 200 per ton hingga akhir 2008 (Kontan tanggal 02 Juni 2008).

Gambar. Pergerakan Indeks Harga Batubara



 


Sumber: www.coalportal.com

·   Kenaikan harga batu bara tidak bisa langsung dinikmati oleh produsen batu bara. Hal ini karena harga jual batu bara telah terikat kontrak sebelumnya (Kontan tanggal 02 Juni 2008).

Keadaan supply dan demand

·   Menurut World Coal Institute (2006), batubara tetap menjadi bahan bakar yang paling banyak dipakai di pembangkit listrik di banyak negara industri berkembang selama beberapa tahun mendatang. Hal ini karena harga batubara lebih rendah dibanding harga minyak mentah, maka batubara dianggap sebagai bahan bakar fosil termurah berdasarkan kadar panasnya. Keuntungan lain dari batubara meliputi pasokan yang stabil dari berbagai sebaran lokasi geografis, penyimpanan yang aman dan mudah, serta kemudahan transportasi melalui kereta atau kapal.

·   Secara geografis, pertumbuhan impor terbesar ada di Asia. China merupakan salah satu kontributor utama pertumbuhan impor batubara di Asia sedangkan Indonesia merupakan eksportir utama sejak tahun 2005.

Impor (juta ton)

2002

2003

2004

2005

2006

Asia

Jepang

94.4

102.6

114.8

118.0

115.4

Korea Selatan

3.4

4.7

6.5

5.9

5.8

Taiwan

42.9

46.6

52.4

52.9

54.1

China

31.8

43.2

40.7

47.4

53.8

India

11.9

12.6

15.5

23.7

23.8

Asia lain

55.4

50.5

63.6

63.5

81.0

Total Asia

239.8

260.2

293.5

311.4

333.9

Eropa

144.1

159.7

171.9

170.7

185.4

Amerika Utara

31.8

43.2

40.7

47.4

53.8

Timur Tengah

8.7

14.3

11.3

11.7

13.1

Amerika Selatan/Tengah

3.4

4.7

6.5

5.9

5.8

Afrika

3.6

4.1

4.1

4.2

4.7

Oceania

0.2

0.2

0.2

0.2

0.2

Lainnya

22.4

28.4

24.6

25.1

27.8

Total

454.0

514.8

552.8

576.6

624.7

Sumber: AME Minerals Economics Pty Ltd (2007).

Ekspor (juta ton)

2002

2003

2004

2005

2006

Indonesia

70.2

87.8

103.0

123.8

168.9

Australia

99.5

104.0

107.9

108.8

112.8

Russia

33.9

46.9

60.0

63.6

74.0

Afrika Selatan

67.3

66.8

63.6

72.8

65.6

China

68.9

79.9

75.3

63.3

56.0

Columbia

33.9

44.4

49.9

53.8

56.0

Kazakhtan

22.3

25.4

24.9

22.5

21.0

Amerika Serikat

16.3

18.9

19.0

19.1

19.8

Polandia

19.1

17.4

16.6

17.6

12.5

Lainnya

22.6

23.3

32.6

31.3

38.1

Total

454.0

514.8

552.8

576.6

624.7

Sumber: AME Minerals Economics Pty Ltd (2007).

·   Konsumsi batubara Indonesia 2005 sebagai berikut:

-    Pembangkit listrik        64%

-    Industri                           22%

-    Semen                           14%

Sumber: ESDM (2006)

·   Secara rata-rata, konsumsi batubara Indonesia hanya 26% dari total produksinya, sedangkan 74% produksi dijual ke pasar ekspor. Selama 10 tahun terakhir, produksi dan konsumsi Indonesia telah meningkat masing-masing 14.5% dan 14.9%. Diperkirakan produksi dan konsumsi batubara Indonesia akan meningkat mengingat rencana pemerintah untuk menyediakan tambahan pembangkit listrik batubara berkapasitas 10000 MW di seluruh Indonesia pada tahun 2010. Tambahan pembangkit listrik ini diperkirakan mendorong/memacu konsumsi batubara domestik hingga 40 juta ton p.a. Banyak pemain industri yakin Indonesia akan memproduksi 200 juta ton batubara pada tahun 2010.

   Produksi dan konsumsi batubara Indonesia (dalam juta ton)

 

1997

1998

1999

2000

2001

2002

2003

2004

2005

2006

Produksi

33.7

38.3

45.3

47.4

46.5

63.6

70.3

81.4

90.4

119.9

Konsumsi

8.2

9.3

11.6

13.7

16.7

18.0

17.9

22.1

23.5

27.7

Sumber: BP Stastitical Review of World Energy 2006/2007.

Kondisi persaingan

·   Produksi batubara Indonesia didominasi oleh 7 perusahaan pertambangan batubara terbesar yang produksinya jika digabungkan mencapai 83% dari total produksi batubara Indonesia 2006. Sedangkan sektor kelistrikan mendominasi konsumsi batubara Indonesia tahun 2005.

Tujuh perusahaan pertambangan batubara terbesar tahun 2006

Perusahaan

Produksi (juta ton)

PT Kaltim Prima coal

35,30

PT Adaro

34,70

PT Kideco Jaya Agung

18,90

PT Arutmin Indonesia

15,30

PT Indominco Mandiri

10,64

PT Berau Coal

10,54

PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk

8,67

T O T A L

134,05

Sumber: ESDM (2007), kecuali PT Kaltim Prima Coal dan PT Arutmin Indonesia dari BUMI

Prospek Industri Batu Bara

·   Konsumsi batubara dunia telah meningkat cepat sejak tahun 2001 seiring harga minyak melonjak CAGR 21.7% p.a. sementara di saat yang sama harga batubara hanya meningkat CAGR 9% p.a. Kondisi ini memicu konsumsi batubara sebagai substitusi sumber energi. Konsumsi batubara selama 5 tahun terakhir (2001 – 2006) telah meningkat CAGR 3.1% p.a., hampir 2 kali lipat dibanding periode 5 tahun sebelumnya (1996 – 2001) yang hanya meningkat CAGR 1.75 p.a.

Outlook produksi batubara Indonesia (juta ton)

 

2005

2006

2010

2015

2020

2025

Domestik

41

46

115

148

177

214

Ekspor

106

124

101

109

106

104

Produksi

150

169

216

257

283

318

Sumber: Indonesia Coal Book 2006/2007

·   Jika dilihat kebutuhan batu bara di level nasional, maka kebutuhan untuk sektor pembangkit listrik, semen dan industri di masa yang akan datang terus meningkat pesat, yang berarti eksplorasi yang lebih besar.

Perkiraan Kebutuhan Batu Bara Nasional (juta ton)

Tahun

Kelistrikan

Pabrik Semen

Industri

2010

47,7

6,3

4,5

2015

54,0

8,5

7,6

2020

72,0

11,1

12,5

Sumber: CSBD, Studi Industri Batubara (2006).

Substitusi

Barang substitusi bagi batubara antara lain :

-    Minyak Bakar/MFO/MDO/Solar

Merupakan bahanbakar utama yang selama ini digunakan untuk mengerakkan mesin industri maupun diesel penghasil listrik. Semakin mahalnya harga Minyak mentah sebagai bahan dasar pembuatan BBM bagi industri menyebabkan banyak perusahaan industri manufaktur mulai beralih ke batu bara. Tingkat efisiensi penggunaan batubara sebagai penggati bahan bakar boiler pada pabrik tekstil adalah 30% dibandingkan boiler yang memakai bahan bakar dari minyak (solar/MFO/MDO). Pada sisi lain pengenaan tarif solar industri yang lebih mahal dari solar untuk non industri menyebabkan biaya bahan bakar untuk pabrik semakin meningkat. Keunggulan BBM sebagai sumber energi pada industri manufaktur adalah sebagian besar pabrik masih memiliki boiler dengan bahan bakar minyak, untuk beralih ke batubara dibutuhkan investasi yang cukup besar. 

-    Listrik dari Energi non BBM

Energi listrik alternatif untuk industri manufaktur dan power plant adalah dengan menggunakan energi yang dapat diperbaharui seperti energi air (PLTA), energi panas bumi (PLTG) dll. Pembangkit listrik dengan energi non BBM ini masih terbatas kemampuan dalam menyuplai energi yang dibutuhkan oleh masyarakat dan industri.

Strategi usaha

Strategi usaha yang dapat dilakukan oleh pemain dalam industri batu bara adalah:

-    Mengikat kontrak dengan beberapa buyer sehingga bargaining position semakin kuat.

-    Mengupayakan loading rate yang semakin meningkat.

-    Menjaga hubungan baik dengan pelanggan dan calon pelanggan baru sehingga kontinuitas pemesanan dan negosiasi harga menjadi lebih mudah.

-    Melengkapi peralatan dan SDM sehingga mampu memproduksi batu bara dengan efektif.

-    Mengupayakan Community Development yang baik sehingga ganguan terhadap aktivitas tambang dapat diminimalisir.

-    Antisipasi terhadap isu kelestarian alam dan lingkungan hidup yang sering dijadikan komoditi oleh LSM.

 

Saluran pemasaran

-    Saluran pemasaran langsung, yaitu penjualan kepada pengguna akhir misalnya kepada PLN, industri semen, dan industri lainnya.

-    Saluran pemasaran tak langsung, yaitu penjualan dengan menjadi subkontrak suatu proyek.

Pembeli utama

Negara tujuan utama ekspor batu bara Indonesia (2005) adalah Jepang, Taiwan, Korea Selatan, Hong Kong dan India. Ekspor ke China hanya 1,16%.

No.

Negara

Persentase

1.

Jepang

22,82

2.

Taiwan

13,68

3.

Korea Selatan

9,38

4.

Hong Kong

8,45

5.

India

8,24

6.

Swiss

4,04

7.

Thailand

4,01

8.

Malaysia

3,75

9.

Spanyol

3,44

10.

Italia

4,04

11.

Filipina

2,50

12.

USA

1,82

13.

Inggris

1,67

14.

Lainnya

12,18

Sumber: ESDM (2006).

Minggu, 06 Juli 2008

Konstruksi Baja

· Struktur rangka baja banyak digunakan pada bangunan tingkat tinggi karena sifatnya yang ringan, rigid dan stabil. Kelebihan dari material baja adalah bobot beratnya yang demikian kecil dibandingkan dengan material rangka lainnya. Dengan daya tahan terhadap tekanan dan tarikan yang lebih unggul daripada material rangka kayu serta bobot materialnya sendiri.

· Dengan sistem pabrikasi (perakitan) yang begitu efisien dan praktis, rangka baja dapat memenuhi tuntutan akan efisiensi waktu dalam penyelesaian suatu gedung. Dengan sistem pabrikasi ini, rangka baja dapat dikerjakan terlebih dahulu atau bersamaan dengan dimulainya pekerjaan awal pembangunan suatu gedung, misalnya, saat dilakukan galian pondasi atau pelaksanaan tiang pancang. Dan, ketika pemasangan dinding bata telah mencapai level tertentu yang diinginkan, rangka baja siap ditempatkan pada posisinya.

· Bahan baku konstruksi baja terdiri dari kawat las, oksigen, baja, atap baja, mur dan baut, dan seng.

a. Keadaan supply dan demand

· Berdasarkan analisis internal PT. Krakatau Steel, konsumsi baja domestik pada tahun 2008 akan meningkat 10% atau sebesar 3,25 juta ton (www.bakrie-brothers.com tanggal 17 Maret 2008). Meski diprediksi meningkat, penyerapan konsumsi pada 3 hingga 4 bulan pertama semester I/2008 masih akan melambat seiring penyesuaian daya beli konsumen akibat lonjakan biaya transportasi yang memengaruhi harga baja domestik. Jika terjadi kenaikan harga dunia, produsen baja domestik akan menyesuaikan dengan ketentuan harga internasional sehingga dalam empat bulan pertama 2008, daya beli konsumen hilir baja di dalam negeri akan mencari titik keseimbangan baru. Sementara itu, memasuki kuartal II/2008, konsumsi baja domestik diperkirakan akan kembali normal.

· Konsumsi baja Indonesia saat ini 26,2 kilogram per kapita—padahal sebelum krisis sempat mencapai 35 kilogram (www.wartaekonomi.com tanggal 5 Maret 2008). Bandingkan dengan negara-negara Asia lainnya, seperti Korea Selatan (995,8 kilogram), Malaysia (278,9 kilogram), atau bahkan Vietnam (65,9 kilogram) dan Filipina (35,8 kilogram). Dengan demikian industri konstruksi baja di dalam negeri masih potensial untuk berkembang

· Gabungan Asosiasi Pabrik Besi Baja Seluruh Indonesia (Gapbesi) menyatakan
sepanjang 2005 hingga 2006,
Indonesia kekurangan pasokan produk baja hilir 2,44 juta ton bagi kebutuhan domestiknya . Konsumsi produk baja hilir sudah mencapai 6,9 juta ton, sementara produksi dalam negeri untuk produk serupa hanya 4,43 juta ton. Dengan permintaan dalam negeri yang selalu meningkat 5% hingga 7% per tahun, maka produksi baja hilir dalam negeri diperkirakan belum mencukupi konsumsi hingga 2010, jika pada saat yang bersamaan, tidak terjadi penambahan investasi yang signifikan.

· Tingginya permintaan produk pabrikasi baja (konstruksi), khususnya konstruksi ringan, diduga akan terus berlangsung dalam beberapa tahun ke depan, seiring membaiknya pertumbuhan ekonomi nasional (Bisnis Indonesia tanggal 5 November 2007). Prediksi ini ditandai dengan maraknya bisnis telekomunikasi, properti, termasuk real estat dan pembangunan infrastruktur. Industri pabrikasi baja mengalami pertumbuhan hingga 20% seiring meningkatnya permintaan tower BTS dari operator telepon selular di Indonesia yang berkisar 800 – 1.000 unit tiap tahun. Sedangkan pengerjaan satu buah tower BTS membutuhkan baja dengan berat 6 – 30 ton (www.antara.co.id tanggal 1 Februari 2008).



sumber: www.wartaekonomi.com tanggal 5 Maret 2008.

b. Kondisi persaingan

· Persaingan antar perusahaan kontraktor baja tertuju pada persaingan harga dan layanan konstruksi yang diberikan. Khusus di Semarang, jumlah perusahaan kontraktor baja tidak terlalu banyak, hanya terdapat 4 pesaing namun untuk pemain kontraktor baja secara nasional cukup banyak yaitu 98 perusahaan (PT. Dataindo Inti Swakarsa, 2006)

c. Substitusi

Konstruksi baja ringan biasanya digunakan untuk konstruksi pabrik dan gudang memperoleh persaingan dari barang substitusi yaitu konstruksi dari beton. Sedangkan untuk rangka atap dan dinding rumah tinggal konstruksi baja ringan mendapat persaingan konstruksi dari kayu. Penggunaan material baja untuk proyek hunian diprediksi menjadi tren di masa mendatang. Untuk mendapatkan kayu bermutu pada saat sekarang ini semakin sulit dan harganya relatif mahal, kualitas baja ringan dianggap tidak kalah dari kayu, bahkan memiliki keunggulan tersendiri, yaitu materialnya ringan, kuat dan anti rayap (Harian Global tanggal 04 Mei 2007).

Selain itu jika dibandingkan dengan beton Pengerjaan konstruksi baja bisa dilakukan sebelum material tiba di lokasi sehingga waktu yang dibutuhkan jauh lebih cepat. Tidak seperti proyek yang dikerjakan dengan konstruksi beton yang dalam setiap langkah setelah pengecoran struktur bangunan harus menunggu sedikitnya 28 hari untuk menunggu tingkat kekuatan tekan dan kekuatan tarik dari konstruksi beton bersangkutan. (Kompas tanggal 14 Oktober 2004). Namun biaya mendirikan bangunan yang dikeluarkan konstruksi baja lebih mahal daripada konstruksi beton atau kayu.