zwani.com myspace graphic comments

Rabu, 03 Januari 2018

Pengguna Internet dan Transaksi Belanja Online Indonesia

Pengguna Internet Indonesia pada 2017 mencapai 112 juta. Pada 2018, angka ini diprediksi menyentuh 123 juta pengguna atau tumbuh 9%. Sementara itu, transaksi belanja online terus meningkat, pada 2017 ada 9,3 juta konsumen yang bertransaksi secara online. Kondisi ini menuntut para pelaku dunia usaha untuk beradaptasi, beralih ke basis ekonomi digital.


Jumat, 15 Juni 2012

Industri AMDK

ASPEK OPERASIONAL :

  • Sekretaris Jenderal Asosiasi Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan Indonesia (Aspadin), Rembang Karyo menjelaskan produk AMDK wajib memenuhi Standar Nasional Indonesia  (SNI) mulai Juli 2010 (gatra.com tgl.23-03-2010). Setiap produk AMDK wajib mencantumkan label yang berisi keterangan tentang produk mereka, apakah tergolong produk air mineral atau produk air demineral (tidak mengandung mineral).
  • Proses produksi AMDK (klm-micro.com/blog/pedoman-proses-amdk):
1.  Bahan Baku
Beberapa hal yang harus dilakukan untuk menjamin mutu air baku meliputi:
a.  Pemeriksaan organoleptik meliputi pemeriksaan bau, rasa, warna dan penampakan
b.  Sumber air baku haru terlindung dari cemaran E.coli
2.  Mesin/Peralatan
a.  Bahan mesin/peralatan
Seluruh mesin/peralatan yang kontak langsung dengan air baku harus dibuat dari bahan yang foodgrade.
b.  Jenis mesin/peralatan
Mesin/peralatan yang harus ada dalam proses produksi AMDK:
                              i.  Bak atau tangki penampung air baku
                             ii.  Mesin/peralatan pada unit pengolahan air, terdiri dari:
-       Saringan dari pasir (sand filter)
-       Saringan dari karbon aktif (carbon filter)
-       Alat pembuat ozon (ozon generator)
-       Tangki pencampuran ozon (ozon mixing tank)
                            iii.  Alat pencuci kemasan (bottle washer)
                            iv.  Mesin pengisi kemasan
                             v.  Mesin penutup kemasan (capping machine)
3.  Fasilitas Laboratorium
Peralatan laboratorium pengawasan mutu harus mampu menganalisa parameter uji mikrobiologi dan uji fisio-kimia yang minimal diperlukan. Peralatan yang harus dimiliki antara lain:
-       Otoklaf
-       Oven
-       Inkubator
-       Pld meter
-       Konduktivitimeter
-       Turbidimeter
-       Peralatan pengujian mikrobiologi
-       Peralatan gelas
4.  Proses produksi
Pada dasarnya, AMDK diproses melalui 3 tahap yaitu: penyaringan, desinfeksi, dan pengisian. Penyaringan dimaksudkan untuk menghilangkan kotoran dan bau yang terkandung dalam air. Desinfeksi bertujuan untuk menghilangkan sebagian besar mikroba dan membunuh bakteri patogen dalam air. Pengisian merupakan tahap akhir berupa pengemasan air yang telah diproses.
Urutan proses produksi AMDK sbb:
a.  Penampungan air baku dan syarat bak penampung
Air baku ditampung dalam bak atau tangki penampung (reservoir). Bak tersebut harus dibuat dari bahan yang food grade, harus bebas dari bahan-bahan yang dapat mencemari air. Bila sumber air letaknya jauh dari pabrik, maka air tersebut dapat dialir melalui pipa yang food grade atau diangkut menggunakan tangki. Tangki tersebut harus dibuat dari bahan yang food grade dan mudah dibersihkan serta didesinfeksi.
b.  Penyaringan

-      Saringan berasal dari pasir atau saringan lain yang efektif dengan fungsi yang sama.
Fungsi saringan pasir adalah menyaring partikel-partikel yang kasar. Bahan yang dipakai adalah butir-butir silica (SiO2) minimal 95%. Ukuran butir-butir yang dipakai tergantung dari mutu kejernihan air yang dinyatakan dalam NTU.
-      Saringan karbon aktif.
Fungsi saringan karbon aktif adalah sebagai penyerap bau, rasa, warna, sisa khlor, dan bahan organik. Bahan karbon aktif bisa berasal dari batubara atau batok kelapa. Daya serap terhadap I2 minimal 75% (SII-0258-88).
-      Mikro filter
Fungsi mikro filter adalah sebagai saringan halus berukuran maksimal 10 mikon.
c.  Desinfeksi
Desinfeksi dimaksudkan untuk membunuh kuman patogen. Proses desinfeksi berlangsung dalam tangki pencampur ozon dan selama ozon masih ada dalam kemasan. Kadar ozon pada tangki pencampur minimal 2 ppm dan residu ozon sesaat setelah pengisian berkisar antara 0,0 – 0,4 ppm. Pemeriksaan kadar ozon dilakukan secara periodik dan didokumentasikan dalamadministrasi perusahaan. Tindakan desinfeksi selain menggunakan ozon, dapat ditambahkan cara lain yang efektif seperti penyinaran sinar ultra violet (UV).

d.  Pencucian kemasan
Botol kaca dan botol yang terbuat dari polikarbonat yang dapat dipakai ulang harus dicuci dan disanitasi dalam mesin pencuci botol. Untuk membersihkan botol dapat digunakan berbagai detergen yang food grade dengan suhu 60-85°C. Sedangkan untuk sanitasi botol dapat digunakan air ozon atau desinfektan lain yang food grade. 

e.  Pengisian dan penutupan
Pengisian dan penutupan botol atau gelas dilakukan dengan mesin pengisian dan penutup botol atau gelas dalam ruang pengisian yang bersih dan saniter. Suhu dalam ruang pengisian maksimal 25°C.

f.   Kemasan
Kemasan AMDK dapat dibuat dari polietilen (PE), polipropilen (PP), polietilen tereflatat (PET), polivinil klorida (PVC), polikarbonat (PC), atau kaca yang memenuhi SNI 12-0037-1987. Dilarang keras menggunakan kemasan bekas dengan bahan baku PE, PP, PET atau PVC, sedangkan kemasan dengan bahan baku PC atau kaca harus mempunyai desain yang mudah dicuci dan dapat dipakai ulang sepanjang masih layak digunakan.

g.  Pengendalian dan Pengujian Mutu
Pengendalian dan pengujian mutu untuk menjamin tercapainya mutu sesuai SNI yang berlaku dilakukan dengan cara mengambil 2 sampel pada saat pembotolan dimana 1 sampel diuji pada saat itu dan 1 sampel lainnya diuji pada hari keenam. Parameter yang harus diuji adalah:
-      Keadaan air: bau, rasa, warna
-      pH
-      Kekeruhan
-     Cemaran mikroba: angka lempeng total, bakteri bentuk coli C.perfringens, salmonella.




ASPEK PEMASARAN :

a.    Potensi
  •  Menurut Ketua Badan Pendukung Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (BPPSPAM), potensi bisnis air di Indonesia memang menggiurkan (wartaekonomi.co.id tgl.25-06-2009). Sampai tahun 2008, PDAM baru bisa melayani kebutuhan sekitar 40% penduduk perkotaan dan 8% penduduk pedesaan, sedangkan kebutuhan akan air bersih tumbuh 1,5% per tahun.
  • Potensi bisnis AMDK masih terbuka lebar (wartaekonomi.co.id tgl.26-06-2009). Hal ini karena:
-     Sekitar 65% tubuh manusia terdiri dari air. Ini setara dengan kurang lebih 47 liter air pada setiap orang dewasa. Setiap hari, 2,5 liter dari volume air tersebut harus diganti dengan air yang baru. Dari volume air yang harus diganti, sekitar 1,5 liter berasal dari air minum.
-     Sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk, kebutuhan akan air minum pun terus meningkat. Untuk masyarakat perkotaan, hampir pasti sumber-sumber mata air yang ada tidak dapat memenuhi seluruh kebutuhan mereka akan air minum. Selain karena volumenya terbatas, sumber-sumber mata air yang ada di perkotaan rata-rata sudah tercemar limbah atau bahan lainnya, sehingga tidak layak konsumsi.
  • Bisnis AMDK diperkirakan bakal  mencapai titik jenuh ketika volume produksi nasional mencapai 20 milyar liter atau setara dengan 80 liter per kapita per tahun (wartaekonomi.co.id tgl.26-06-2009). Padahal pada tahun 2009 volume produksi nasional baru mencapai 12,8 milyar liter – sekitar 88% dari total kapasitas produksi nasional sebesar 14,5 milyar liter.
  •  Bisnis AMDK relatif tahan terhadap krisis ekonomi (wartaekonomi.co.id tgl.26-06-2009). Pada krisis ekonomi 1998, produksi makanan dan minuman terkena imbas paling akhir. Sedangkan pada krisis ekonomi 2009, kondisi bisnis masih cukup baik meskipun mengalami stagnan.
  • Tingkat konsumsi AMDK Indonesia relatif masih rendah jika dibandingkan negara lain (wartaekonomi.co.id tgl.26-06-2009). Tingkat konsumsi AMDK nasional pada 2009 mencapai 45 liter per kapita per tahun. Pada tahun 2007, di Thailand, sudah mencapai 95 liter, sedangkan pada tahun 2005 di Perancis mencapai140 liter dan di Italia 165 liter.
b.    Permintaan
  • Ketua Umum Asosiasi Air Kemasan Indonesia (AMDK) Hendro Baruno menyatakan konsumsi AMDK terus mengalami peningkatan, rata-rata tumbuh 11-12 persen per tahun (sindonews.com tgl.18-01-2012).  Pada 2011, konsumsi AMDK mencapai 17,9 miliar liter dan pada tahun 2012 diperkirakan bisa mencapai 19,8 miliar liter.
  • Sepanjang 2011, penurunan konsumsi AMDK terjadi bulan Februari karena faktor musim hujan dan Agustus karena bertepatan dengan bulan puasa. Memasuki September hingga Desember 2011, konsumsi AMDK berada pada titik tertinggi, yakni 1,6 miliar liter per bulan (sindonews.com tgl.18-01-2012). Konsumsi tertinggi terjadi di kawasan Jabodatabek yakni 39 persen. Untuk keseluruhan pulau Jawa adalah 40 persen dan daerah lainnya 21 persen.
  • Ketua Aspadin Jateng, Willy Bintoro Chandra, menyatakan penjualan AMDK di Jateng tahun 2010 diperkirakan tumbuh 10%-15%, menjadi sekitar 1,5 milyar liter per tahun (suaramerdeka.com tgl. 15-03-2010). Jumlah ini sekitar 20% dari prediksi penjualan nasional.
b. Target Pasar
  • Peta dan penguasaan pasar AMDK tidak merata (wartaekonomi.co.id tgl.26-06-2009). Sekitar 70% pasar AMDK ada di Jawa.
  • Sekitar 39% atau 4,99 milyar liter dari total produksi AMDK pada 2009 dikonsumsi di wilayah Jabodetabek (web.bisnis.com tgl.24-03-2010). Kemudian 40% konsumsi didominasi Jawa Barat, Jawa timur dan Jawa Tengah.
c.   Kondisi Persaingan
  • Saat ini, ada sekitar 1.500 merek AMDK di Indonesia (sindonews.com tgl.18-01-2012).
  • Persaingan bisnis AMDK di Pulau Jawa sangat ketat karena banyaknya produsen AMDK (m.suaramerdeka.com tgl.29-06-2009). Di wilayah Jateng – DIY, tercatat ada 22 perusahaan di Jateng dan 1 perusahaan di DIY.
  • Berdasarkan data Aspadin, anggota asosiasi tersebut mencapai 165 perusahaan (wartaekonomi.co.id tgl.25-06-2009). Di luar Aspadin, terdapat 185 perusahaan AMDK lain yang masih aktif berproduksi. Semua perusahaan, baik yang menjadi anggota Aspadin maupun tidak, menjual sekitar 600 merk AMDK.
  • Di antara anggota Aspadin, merk Aqua menguasai sekitar 45%-55% pangsa pasar AMDK di Indonesia (wartaekonomi.co.id tgl.26-06-2009). Pemain lainnya seperti Ades, Sosro (Prim-A), Club dan 2 Tang menguasai 30%-35%.
  • Industri AMDK juga menghadapi persaingan dengan produk air minum isi ulang yang berpotensi menggerus omzet industri AMDK (web.bisnis.com tgl.25-07-2009). Ketua Aspadin Indonesia, Willy Sidharta mengungkapkan terdapat sekitar 4.000 unit usaha air minum isi ulang di Indonesia pada 2008, sekitar 5%-7% di antaranya atau 200-280 perusahaan menjual produknya ke pasar ritel. Setiap perusahaan diperkirakan memproduksi sekitar 40 botol air isi ulang per hari ke pasar ritel.
  • Profil industri AMDK
Uraian
2006
2007
2008
Jumlah perusahaan (unit)
490
518
528
Total kapasitas (milyar liter)
11,5
13,0
14,5
Produksi riil (milyar liter)
10,3
11,6
13,0
Jumlah tenaga kerja (orang)
25.326
26.537
27.806
Sumber: Depperin (2009).


d.   Strategi usaha
Strategi usaha yang dapat dilakukan oleh pemain dalam industri AMDK adalah:
-     Menjaga kualitas/mutu produk AMDK.
-     Distribusi/jaringan pemasaran yang luas.
-     Sarana armada distribusi yang memadai.
-     Harga produk yang bersaing.
-     Layanan antar ke pelanggan.
-     Promosi.

e.      Saluran pemasaran
-       Saluran pemasaran langsung, yaitu penjualan kepada pengguna akhir.
             -   Saluran pemasaran tak langsung, yaitu penjualan melalui distributor atau agen

Senin, 01 Agustus 2011

Bisnis SPPBE


ASPEK OPERASIONAL
  • Dalam website sppbe.pertamina.com, Pertamina membuka kesempatan bagi masyarakat yang berminat melakukan investasi di bisnis LPG sebagai calon investor LPG Filling Station atau disebut juga Stasiun Pengisian dan Pengangkutan Bulk Elpiji (SPPBE).
  • SPPBE merupakan filling plant milik swasta yang melakukan pengangkutan LPG dalam bentuk curah dari filling plant Pertamina dan melakukan pengisian tabung-tabung LPG untuk para agen Pertamina yang menjual LPG. SPPBE pola baru yang ditawarkan oleh Pertamina ada dua macam yaitu filling station MAXI dengan thruput kurang lebih 50 MTon/hari, dan filling station MINI dengan thruput kurang lebih 30 MTon/hari.
  • SPPBE ditangani oleh Unit Gas Domestik yang merupakan salah satu unit bisnis di PERTAMINA yang memasarkan LPG dan produk-produk gas lainnya di Indonesia. Unit Gas Domestik sudah berpengalaman memasarkan LPG dengan brand ELPIJI sejak tahun 1968, dan BBG (Bahan Bakar Gas) sejak tahun 1987. Unit Gas Domestik membagi wilayah pemasarannya menjadi 5 area pemasaran yang dipimpin oleh Manajer Region, yaitu:
o Region I, dengan wilayah :
- Unit Pemasaran I Medan, melingkupi area Provinsi NAD, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau Daratan dan Riau Kepulauan
- Unit Pemasaran II Palembang, melingkupi area Provinsi Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung
o Region II Gas Domestik, melingkupi area DKI Jakarta, Provinsi Banten dan Jawa Barat
o Region III Gas Domestik, melingkupi area Provinsi Jawa Tengah dan DI Yogyakarta
o Region IV Gas Domestik, melingkupi area Provinsi Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur
o Region V, melingkupi area Kalimantan, Sulawesi dan Papua
  • Pembangunan SPPBE diperkirakan membutuhkan waktu 3 – 6 bulan, tergantung pada ukuran SPPBE tersebut. PT. Pertamina (Persero) akan memberikan panduan dan bimbingan dalam masa pembangunan tersebut.
  • Sifat kerjasama investasi SPPBE sebagai berikut:
- Pertamina memberikan Filling Fee dan Transport Fee
- Volume SPPBE tergantung perkembangan pasar, Pertamina tidak memberikan garansi.
- Lokasi pembangunan SPPBE tergantung di daerah mana yang di konversi.
- Kebutuhan tiap lokasi sudah di petakan, dalam hal lokasi tersebut sudah terpenuhi maka tidak diperlukan lagi
- Kebutuhan SPPBE sangat tergantung sebaran minyak tanah yang akan dikonversi, apabila ada aplikasi yang sudah disetujui maka daerah tersebut sudah di close.
  • Menurut Mullar Hutagaol, Manager Operasi Gas Domestik PT Pertamina (Persero), untuk membangun stasiun pengisian gas elpiji khusus tabung tiga kg diperlukan investasi paling tidak Rp 2 miliar untuk mesin automatis 'carousell' (www.kapanlagi.com tgl.09-07-2007). Menurut Ketua Perhimpunan Pengusaha Elpiji Indonesia (PPEI) Abas Sudarmoko, investasi di SPPBE sekitar Rp 11 milyar untuk kapasitas 50 ton (majalah.tempointeraktif.com tgl.03-01-2005).

ASPEK PEMASARAN
  • Potensi bisnis LPG masih sangat besar. Saat ini konsumsi LPG sebesar 1,2 juta Mton dari potensi sebesar 3,2 juta Mton (baru 37,5%). LPG dikonsumsi oleh 75% rumah tangga dan 25% industri dan komersial (pertamina.com). Elpiji Pertamina dipasarkan dalam berbagai kemasan:
- tabung 3 kg, rumah tangga ex pengguna minyak tanah (disubsidi).
- tabung 6 kg dan 12 kg, rumah tangga
- tabung 50 kg, komersial (restoran, home industri, hotel)
- skid tank (curah), industri
  • Program konversi minyak tanah ke LPG direncanakan secara bertahap dari tahun 2007 – 2010 dengan total jumlah KK terkonversi adalah 42.020.000 KK. Road mapnya dilihat pada tabel berikut:
Tahun
KK terkonversi (tahun berjalan)
Wilayah
2007
3.500.000
Jawa – Bali & Palembang
2008
12.500.000
Medan, Pekanbaru, Sumsel, Jawa – Bali, Balikpapan, Makasar
2009
13.251.516
Seluruh Jawa – Bali
2010
12.768.484
Luar Jawa
  • Konsumsi LPG 2003 – 2007 untuk rumah tangga terus meningkat rata-rata sebesar 9,77% per tahun, sementara untuk industri hanya tumbuh 4,56% per tahun.
  • Sasaran program konversi minyak tanah ke LPG adalah ZERO-KERO 2012, artinya pada 2012 tidak ada lagi minyak tanah bersubsidi yang digunakan untuk memasak (Departemen Energi & Sumber Daya Mineral, 2007). Dengan program ini diperlukan distribusi 4,9 juta ton LPG untuk sekitar 52 juta KK pada akhir 2012 dengan perincian sebagai berikut:
    • pengguna gas kota : 0,1 juta KK
    • pengguna gas LPG kemasan 12 kg : 9,6 juta KK
    • pengguna gas LPG kemasan 3 kg : 42,0 juta KK
    T O T A L 51,7 juta KK (70,89% dari jumlah KK Indonesia)
  • Kenaikan harga elpiji 12 kg dikuatirkan memicu pergeseran penggunaan elpiji 12 kg ke elpiji 3 kg. Pertamina melakukan kenaikan harga elpiji 12 kg secara bertahap setiap bulan dengan besaran kenaikan Rp 100 per kg setiap bulannya atau Rp 1.200 per tabung per bulan (Kompas tgl.14-10-2009). Kenaikan ini karena harga keekonomian elpiji 12 kg sebesar Rp 7.524 per kg atau Rp 90.295 per tabung sedangkan Pertamina masih menjual Rp 5.750 per kg atau Rp 69.000 per tabung. Untuk produk elpiji 3 kg, harganya masih disubsidi oleh pemerintah. Harga elpiji 3 kg sesuai ketentuan pemerintah Rp 4.250/kg atau Rp 12.750 per tabung.
  • Kebutuhan LPG untuk Jawa Tengah pada 2008 diperkirakan baru 79.737 ton, dan melonjak menjadi 375.557 ton pada 2009 akibat program konversi minyak tanah ke LPG (Departemen Energi & Sumber Daya Mineral, 2007). Pembagian paket kompor gas lengkap dengan tabung dan aksesoris yang direalisasikan PT. Pertamina Pemasar BBM Region III Jateng-DIY baru mencapai 35 persen dari target 5,7 juta target. Sedangkan penyaluran gas elpiji untuk 3 kg dan 12 kg mencapai 1.300 metrik ton per hari (radarsemarang.com tgl.12-06-2009). General Manager Gas Domestik Region Jateng-DIY Arie Anggoro mengungkapkan program konversi gas harus sudah diselesaikan pada akhir tahun 2009. Sementara itu, peredaran refil gas elpiji tabung 3 kg di wilayah Jateng-DIY selama Januari – Mei 2009 mencapai 19.134.622 tabung

  • PT Pertamina pada tahun 2008 menargetkan mampu mendistribusikan tabung elpiji (LPG) 3 kg di Jawa Tengah/DIY sebanyak 1 juta tabung untuk memperlancar program konversi minyak tanah ke elpiji (www.bphmigas.go.id tgl.14-03-2008).
  • Konversi dan distribusi paket konversi minyak tanah ke elpiji 3 kg di seluruh Jawa Tengah telah mencapai 100% pada akhir Januari 2010 (edisicetak.solopos.com tgl.08-02-2010). Total pendistribusian di seluruh Jateng mencapai 9,5 juta paket dengan total kebutuhan mencapai 1.400 metrik ton per hari. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Jateng ini, Pertamina memasok elpiji dari empat titik, yaitu kilang Cilacap, kilang Balongan, terminal elpiji Eretan dan terminal elpiji Gresik.
  • Di wilayah Jateng dan DIY baru terdapat 9 SPPBE dan 6 SPBE yang tersebar di kabupaten Banyumas, Karanganyar, Kendal, Kudus, Pemalang, kota Semarang, kabupaten Semarang, Surakarta, kabupaten Tegal, kota Tegal dan Yogyakarta (kompas.com tgl.03-04-2009). Pertamina menargetkan akan membangun 72 SPPBE sampai dengan tahun 2010, 25 SPPBE diantaranya ditargetkan selesai tahun 2009. Setiap SPPBE berkapasitas 100-250 metrik ton per hari sedangkan SPBE berkapasitas 50 metrik ton per hari untuk memasok kebutuhan Jateng-DIY sebesar 11.800 metrik ton per bulan.
  • Di wilayah Jateng-DIY sudah terdapat 9-10 unit SPPBE, dan sudah ada 80 SPPBE lagi yang sudah mendapat ijin (radarsemarang.com tgl.12-06-2009).
  • Menurut Assistant Manager External Relation Pertamina Jateng dan DIY, Heppy Wulansari, distribusi elpiji di Jateng didukung oleh 35 SPPBE yang tersebar di hamper semua kota dan kabupaten, serta 308 agen elpiji (edisicetak.solopos.com tgl.08-02-2010).
  • Strategi usaha yang dilakukan oleh perusahaan SPPBE lebih diarahkan kepada usaha untuk meningkatkan penjualan melalui peningkatan mutu dan nilai tambah terhadap produk yang dihasilkan. Kegiatan usaha secara keseluruhan sudah diatur oleh PT. Pertamina sebagai penyedua LPG.
  • Jalur distribusi LPG dari kilang sampai ke konsumen sebagai berikut: LPG yang dihasilkan oleh kilang-kilang produksi dikirim dan ditimbun di LPG-filling plant milik Pertamina. Disini LPG ada yang langsung diisi kedalam tabung sehingga dapat langsung dipasarkan melalui dealer/pengecer, disamping ada juga yang dikirim langsung ke Depot Supply Point dan SPPBE.

  • Pemanfaatan LPG pada 2007 sebagai berikut:
    • Rumah Tangga : 773.018 MT
    • Industri : 187.733 MT
    • Komersial : 143.555 MT
    Sumber: Departemen Energi & Sumber Daya Mineral (2007)

Industri Elektronik Peralatan Rumah Tangga

ASPEK OPERASIONAL
  • Pengembangan industri peralatan rumah tangga lebih prospektif dikembangkan bagi pelaku domestik mengingat level teknologinya rendah, namun industri ini mengalami kendala dalam komponen dan suku cadang (Divisi REN, Mei 2008). Industri ini memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor (80%) khususnya terhadap industri komponen. Selain itu ada beberapa masalah lain seperti belum harmonisnya tarif bea masuk antara produk jadi dengan komponen sehingga daya saing lemah terhadap produk impor dari Cina, banyaknya produk selundupan, maraknya pemalsuan merek produk, dll.
  • Industri peralatan listrik rumah tangga termasuk dalam produk industri elektronika (Divisi REN, Mei 2008). Industri elektronika relatif memiliki produk yang sangat lengkap, namun kebanyakan merupakan produk rakitan didalam negeri akibat belum terbangunnya kaitan industri hilir dengan hulu (bahan baku dan komponen).




ASPEK PEMASARAN
  • Industri peralatan rumah tangga memiliki potensi sangat besar dan industri ini paling mungkin dikembangkan di dalam negeri karena level teknologinya relatif rendah hingga agak menengah (Divisi REN, Mei 2008). Produksi elektronika rumah tangga terus meningkat selama tahun 2002-2006 dengan trend pertumbuhan tinggi (di atas 6%) dialami oleh hampir semua produk, kecuali AC dan rice cooker. Ke depan produk-produk tersebut secara umum masih prospektif. Untuk AC lebih prospektif di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya.
  • Marketing PT Sharp Indonesia Christina Yulina menyatakan penjualan mixer sepanjang 2009 cukup bagus, tumbuh antara 15-20% dibandingkan 2008 (www.surya.co.id tgl.08-07-2010.
  • Marketing Corporate Operational Department Hartono Elektronik David Hutani mengatakan penjualan produk peralatan rumah tangga non audio-video seperti mixer, blender dan kipas angin, pertumbuhan penjualannya mencapai 25% per tahun (www.surya.co.id tgl.08-07-2010). Tren produk peralatan rumah tangga non audio-video dari segi model tidak cepat berubah. Direktur Pemasaran PT LG Electronics Indonesia memproyeksikan permintaan pasar barang elektronik, terutama produk alat rumah tangga akan meningkat 10-15% pada 2010 (www.dhi.koran-jakarta.com tgl.29-01-2010).
  • Persaingan merebut pangsa pasar diproyeksikan akan semakin ketat.
  • Persaingan dalam industri peralatan rumah tangga dinilai ketat. Hal ini karena peralatan rumah tangga memiliki jenis yang sangat banyak dengan berbagai merek pabrikan.
  • Strategi usaha yang dapat dilakukan oleh pemain dalam industri peralatan rumah tangga adalah:
- Melakukan inovasi dan pengembangan produk.
- Menyediakan berbagai jenis varian produk.
- Melakukan promosi dan pemasangan iklan.
-
Mengembangkan jaringan pemasaran yang luas termasuk secara online.
-
Menyediakan produk berkualitas dengan harga bersaing.
-
Memberikan layanan purna jual seperti pusat perbaikan dan call center.
-
Menggelar program undian, tukar tambah, cash back sampai pemberian voucher.
- Bekerjasama dengan berbagai lembaga pembiayaan

Selasa, 13 Januari 2009

Industri Mebel

ASPEK OPERASIONAL :

Kayu Jati

·         Munculnya pasar untuk peralatan rumah tangga, peti kemas, pulp daln lain-lain telah mendorong masyarakat di Jawa untuk membudidayakan kayu (hutan rakyat). Kayu yang banyak dibudidayakan adalah kayu sengon, jati dan mahoni (Sumardjani dan Waluyo, 2007). Kayu sengon banyak digunakan untuk peti kemas; pulp; perabot rumah tangga (meja. kursi, dipan, almari); bahan bangunan (usuk, reng). Kayu jati atau mahoni dan kayu keras lainnya lebih digunakan untuk perabot rumah tangga dan bahan bangunan rumah yang tergolong mewah.

·         Kebutuhan bahan baku kayu industri mebel dan kerajinan adalah sekitar 7-7,5 juta m3 per tahun dan umumnya adalah jenis kayu jati, mahoni, pinus, acasia, gmelina, durian, mangga, mbacang, kuweni, bungur, sonokeling, mindi, waru, kayu karet dan sebagian kecil kayu-kayu yang berasal dari hutan alam, seperti meranti, nyatoh, bangkirai, kempas (Road Map Revitalisasi Industri Kehutanan Indonesia, 2007).

·         Menurut Hery Santoso (2006) dalam Analisa Konsumsi Kayu Nasional, potensi tanaman hutan rakyat di pulau Jawa sampai dengan 2005 sebagai berikut:

Jenis Tanaman

Kuantitas

Jati

79,7 juta pohon

Sengon

59,8 juta pohon

Mahoni

45,3 juta pohon

Sumber: Hery Santoso (2006).

Dilihat dari jenisnya, kayu jati merupakan kayu favorit pilihan hampir 3 juta rumah tangga, dengan rata-rata pemilikan lebih dari 25 pohon per rumah tangga. Jenis berikutnya yang banyak ditanam adalah sengon, yang ditanam oleh 2 juta rumah tangga, baru kemudian mahoni, akasia dan pinus.

Jenis Tanaman

Rumah Tangga Pengelola (juta)

Jumlah Pohon (juta)

Persentase pohon siap tebang (%)

Konsentrasi Wilayah

Jati

3,05

79,71

23,14

Jateng

Sengon

2,32

59,83

24,61

Jateng

Mahoni

2,31

45,26

41,11

Jateng, Jabar

Akasia

1,20

32,20

37,69

Jatim, Jateng

Pinus

0,16

5,82

46,12

Jatim, Sumut

Sumber: Hery Santoso (2006).

·         Luas lahan yang dikelola Perum Perhutani sebesar 2.567.642 ha (meliputi 19% dari luas Pulau Jawa), terletak di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat dan Banten (Analisa Konsumsi Kayu Nasional 2007). Kawasan yang dikelola merupakan:

(i)      Hutan Produksi seluas 1.870.882 ha (73%), terdiri dari:

-          Jati 1.048.896 ha (56% dari hutan produksi), dan

-          Non Jati 821.965 ha (44% dari hutan produksi)

(i)      Hutan Lindung, tak baik untuk produksi dan lapangan dengan tujuan istimewa, seluas 696.760 ha (72%).

·         Potensi kayu yang dimiliki Perum Perhutani merupakan kayu Jati yang pada 1998 mempunyai areal produktif seluas 523.219 ha (50% dari areal hutan produksi jati) sedangkan kondisi tahun 2003 mengalami penurunan sebesar 70.381 ha (14 % dari areal produktif), sehingga sisa areal produktif nya menjadi 452.838 ha (43 % dari areal hutan produksi jati). Kerusakan sumberdaya hutan tersebut yang tergolong parah, disebabkan oleh maraknya kegiatan penjarahan dan perambahan mulai tahun 1998 yang sampai saat ini masih berlangsung dan belum bisa ditanggulangi secara menyeluruh. Dalam kurun waktu tahun 1998 s/d 2002 terjadi penurunan volume standing stock dari 37.530.434 m3 menjadi 27.976.539 m3 (9.553.895 m3 atau ± 2.400.000 m3/tahun). Hal ini mengakibatkan penurunan potensi produksi kayu mulai tahun 1999, baik jati maupun non jati, dari  tahun 1999 sebesar ± 1.750.000 m3 pada tahun 2004 tinggal ± 847.000 m3. Terlebih lagi dengan adanya Jatah Produksi Tebang (JPT) Perum Perhutani tahun 2007 yang diturunkan menjadi sekitar 926.000 meter kubik dari JPT 2006 sebesar 976.965 meter kubik akan memperkecil produksi kayu jati (Analisa Konsumsi Kayu Nasional 2007).

 

Industri Mebel

·         Industri mebel Indonesia terdiri atas produk-produk kayu (kayu karet, mahogani, jati, akasia), rotan dan logam/plastik baik untuk ekspor maupun konsumsi dalam negeri. Sementara perusahaan besar umumnya mengkhususkan diri pada campuran panel (kayu lapis, papan partikel dan papan serat kepadatan sedang) dan kayu keras, produsen kecil-menengah berfokus pada mebel kayu keras. Hal itu disebabkan oleh tingginya biaya modal yang diperlukan untuk menghasilkan mebel berlapis panel. Bagi produsen kecil-menengah, biaya panel yang dibeli sebagai bahan masih tinggi, sebagaimana harga pasar produk-produk ini tercermin pada permintaan dalam negeri dan ekspor terhadap kayu lapis, papan partikel, dan papan serat kepadatan sedang (Tinjauan Rantai Industri Mebel tanggal 16 Februari 2007).

·         Sentra-sentra industri mebel dan kerajinan di Jawa Tengah terutama berkembang pesat di Semarang, Jepara, Solo dan Yogyakarta. Industri permebelan dan kerajinan ini didominasi oleh Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dengan sistem home industry yang bekerjasama dengan industri-industri besar (Road Map Revitalisasi Industri Kehutanan Indonesia, 2007).

·         Menurut Road Map Revitalisasi Industri Kehutanan Indonesia (2007), permasalahan yang dihadapi industri permebelan dan kerajinan sebagai berikut:

-          kurangnya bahan baku

-          negative brand image akibat pembalakan liar

-          rendahnya kualitas produk Indonesia dibanding produk dari negara lainnya.

-          lebih mahalnya harga produk Indonesia dibanding pesaing.

-          lebih disukainya produk-produk bersertifikat.

·         Ambar Tjahyono, Ketua Umum ASMINDO menyebutkan  dari segi kualitas bahan baku dan desain produk, Indonesia memiliki keunggulan dibandingkan dengan negara produsen mebel lainnya (Bank Ekspor Indonesia, 2007).

 

Proses Produksi (Tinjauan Rantai Industri Mebel tanggal 16 Februari 2007)

1.      Setelah ditebang, kayu bulat dikuliti dan dipotong menjadi papan di kilang gergaji, kemudian kayu ditumpuk dan diantar dengan truk ke lahan penerimaan pabrik mebel. Syarat pembayaran biasanya tunai ke kontraktor yang memotong dan mengangkut kayu. Bahan-bahan lain, dari panel sampai lem, bahan pemulas, perkakas, kemasan, dan bahan tak langsung dibuat setempat atau di pabrik mancanegara dan dibeli dari pemasok yang biasanya bekerja atas pembayaran net-30, yang berarti seluruh tagihan harus dibayar ke pemasok bahan mentah dalam 30 hari.

2.      Setelah diterima oleh pabrik mebel, papan ditempatkan di kamar hampa autoklaf. Campuran encer boraks (untuk terapan penindasan jamur noda biru) dan boriks (insektisida) dimasukkan ke kamar hampa itu dan menyusupi segenap serat dari kayu yang sedang dirawat. Lalu, papan dipindahkan dan ditempatkan langsung di kamar pengering untuk dikeringkan.

3.      Proses pengeringan mencakup penghembusan terus-menerus udara panas dan kering ke kamar pengering. Gerakan hidrolis menarik kelembapan yang terbenam jauh di papan. Banyak kamar pengering kini dikendalikan komputer untuk memantau keadaan kamar. Kamar pengering dipantau secara berkala dan kandungan kelembapan sejumlah papan diperiksa. Kayu dikeluarkan setelah kandungan kelembapan kurang dari 10%.

4.      Kayu gergajian yang dikeringkan ini dipotong dan digiling di mesin penggosok atau pencetak. Kerja pencetakan memotong enam sisi sekaligus, menghasilkan kayu halus berukuran tepat dan siap untuk pengolahan selanjutnya.

5.      Langkah pengolahan berikutnya adalah menyambung-gerigikan (finger-joint) potongan-potonganpendek kayu untuk menyusun papan yang lebih panjang. Potongan lika-liku (zigzag) papan yang tersambung-gerigi memaksimalkan bidang permukaan kayu yang dilem. Jika dilakukan dengan benar, kayu tersambung-gerigi lebih kuat daripada kayu alami yang melingkunginya. Papan sambungan ini digabungkan di mesin tekan kepit besar, lalu digosok lagi untuk menghilangkan kekasaran atau beda ketebalan atau lebar di sepanjang papan.

6.      Setelah digiling, dibentuk dan diputar, komponen-komponen dipulas dalam sebuah proses banyak langkah yang mencakup beberapa lapisan awal plamir. Langkah itu melenyapkan permukaan yang tak rata dan lubang di kayu, menghasilkan permukaan licin yang siap bagi pemulasan akhir. Satu-satu komponen dipulas sebagai komponen bagian dari suatu satuan rangkai-sendiri (knock down) atau satuan utuh lewat perakitan memakai paku dan sekrup.

7.      Beberapa langkah ulangan diperlukan dalam pemulasan. Pertama, plamir disapukan dalam satu atau dua lapisan. Plamir adalah bahan dari lak yang cepat kering dan, saat kering, membuat penggosokan efisien. Setelah itu, konveyor cat memudahkan kerja penyemprotan dan penganginan. Biasanya sebuah oven segaris menjadi bagian dari jalur perakitan dan memercepat proses pengeringan. Setelah kering, komponen dipindahkan dan dikemas untuk dikapalkan menggunakan lembaran busa polietilen dan karton luar lima lidah (five-ply).

 

ASPEK PEMASARAN :         

Keadaan supply dan demand         

·         Perdagangan mebel di pasar dunia saat ini trennya juga cenderung terus membaik. Nilai perdagangan mebel dunia meningkat dari USD 51 milyar pada tahun 2000 menjadi USD 76 milyar pada tahun 2005. Pada 2006, angkanya telah melonjak naik menjadi USD 80 miliar (Bank Ekspor Indonesia, 2007).

·         Namun, pangsa pasar mebel di dunia masih dipegang oleh negara pengekspor mebel terkemuka, antara lain: Italia yang menguasai pangsa pasar sebesar 14,18 %, disusul Cina (13,69%), Jerman (8,43%), Polandia (6,38%), dan Kanada (5,77%). Sedangkan pangsa pasar mebel Indonesia saat ini hanya mencapai 2,9% (Bank Ekspor Indonesia, 2007).

·         Indonesia telah memertahankan pangsa pasarnya lebih-kurang tetap selama lebih dari tiga tahun terakhir pada angka 2,5%, sekalipun terjadi lonjakan tajam pangsa pasar yang direbut oleh China.

Tabel. Pangsa Pasar Ekspor Dunia untuk Mebel.

   

Sumber: Global Trade Atlas (2006).

·         Pemerintah telah mengupayakan untuk mengembangkan industri mebel dan menetapkan sektor ini sebagai salah satu dari 10 komoditas unggulan ekspor Tanah Air. Selama tahun 2005, ekspor mebel dan kerajinan Indonesia telah mencapai sebesar USD 1,8 miliar. Skala itu meningkat di tahun 2006 menjadi USD 2,2 miliar. Bahkan, di tahun 2007, nilai ekspor mebel dan kerajinan ditargetkan mencapai USD 2,9 miliar. Dan, jika tak ada hambatan, pada 2010 pemerintah menargetkan ekspor mebel nasional bisa menembus USD 5 miliar (Bank Ekspor Indonesia, 2007).

·         Selama 2000-2005 ekspor mebel Indonesia meningkat 17%, bernilai seluruhnya 1,78 milyar dolar AS pada 2005 (Tinjauan Rantai Industri Mebel tanggal 16 Februari 2007).

Gambar. Penjualan Mebel Ekspor dari Indonesia (2000-2006) dalam USD.

 

Sumber: Tinjauan Rantai Industri Mebel tanggal 16 Februari 2007

·         Data dari Kompas Maret 2005 bahwa ekspor mebel Jateng menunjukkan penurunan yang lebih kecil dari penurunan ekspor mebel nasional, sehingga sharenya terhadap total ekspor mebel nasional menunjukkan peningkatan sebagaimana terlihat dalam tabel :

Periode

Ekspor Mebel (USD juta)

Growth

Share

Jateng

Jateng

Nasional

Jateng

Nasional

1999

453.74

1.209.00

 

 

37.53%

2000

528.80

1.470.00

+18.75%

+21.59%

36.65%

2001

503.30

1.389.00

-  6.59%

- 5.51%

36.23%

2002

497.10

1.470.00

- 1.23%

+ 5.83%

33.82%

2003

476.10

1.520.00

- 4.22%

+ 3.40%

31.32%

2004

457.00

1.550.00

- 4.01%

+ 1.97%

29.48%

2005

480.25

1.630.00

+ 5.22%

+ 5.16%

29.50%

 Sumber : Depperindag dan Asmindo

·         Asosiasi Mebel Indonesia (ASMINDO) menargetkan ekspor produk mebel dan kerajinan nasional dapat naik 15% untuk masa sepanjang tahun 2008 (Kompas tanggal 08 Maret 2008). Nilai ekspor mebel dan kerajinan tahun 2006 mencapai Rp. 1,3 trilyun, tahun 2007 diperkirakan Rp.2,7 trilyun, sedangkan untuk tahun 2008 optimis naik 15% dari tahun 2007.

·         Komposisi perkiraan ekspor mebel dan rotan tahun 2008 dari ASMINDO mencapai sebagai berikut :

~ Mebel dari  Kayu            =  459.774,6 ton    61,61 %

~ Mebel dari  Rotan           =    85.886,6 ton    11,51 %

~ Mebel dari  Besi             =    18.548,1 ton      2,48 %

~ Mebel dari  Bambu         =      4.578,8 ton      0,61 %

~ Mebel dari  Plastik          =      4.123,6 ton      0,55 %

~ Mebel dari  Bhn.lainnya  =  173.286,0 ton    23,24 %

     Total                         =  746.197,7 ton  100,00 %

.

Kondisi persaingan

·         Persaingan di pasar ekspor berasal baik dari produsen lokal maupun produsen luar negeri relatif ketat, antara lain :

-    Pesaing usaha sejenis yang berasal dari lokal dan sekitarnya.

-    Pesaing usaha sejenis yang berasal dari luar negeri saat ini masih cukup banyak yaitu antara lain dari negara Cina, Vietnam, Kamboja, Malaysia dan Myanmar, dimana mereka cukup gencar menyerbu pasar Eropa dengan keunggulan kualitas yang tinggi dan harga yang lebih murah karena bahan kayu jati yang melimpah dinegara masing-masing, namun dari negara-negara tersebut sebagian besar perusahaan besar yang tidak mau mengekspor dalam partai kecil (satu-dua kontainer dengan barang yang tidak sejenis).

·         Dari data th 2005 yang dicatat oleh Kantor Kehutanan dan Kantor Industri, Perdagangan & Koperasio (INDAKOP), di Jawa Tengah terdapat 1.232 industri mebel. Produksi mebel terpusat di daerah Jepara, Klaten, Sukoharjo dan Sragen.

Tabel. Jumlah Industri Mebel di Jawa Tengah

No

Kabupaten

Mebel

1

Banjarnegara

-

2

Banyumas

1

3

Batang

1

4

Blora

40

5

Boyolali

-

6

Brebes

15

7

Cilacap

-

8

Demak

-

9

Grobogan

90

10

Jepara

398

11

Karanganyar

-

12

Kebumen

-

13

Kendal

45

14

Klaten

-

15

Kudus

4

16

Magelang

31

17

Pati

2

18

Pekalongan

11

19

Pemalang

82

20

Purbalingga

30

21

Purworejo

2

22

Rembang

151

23

Semarang

69

24

Sragen

50

25

Sukoharjo

116

26

Tegal

3

27

Temanggung

10

28

Wonogiri

72

29

Wonosobo

9

 

T O T A L

1232

Sumber : INDAKOP (2005).

·         Daftar Anggota ASMINDO secara nasional yang memproduksi mebel dari kayu jati sebagai berikut.

Nama Perusahaan

Barang Produksi

Produksi Ekspor

Pasar Utama

Artanis Pratama Jaya, PT

Mebel kebun dari jati

10 peti kemas

Amerika Serikat, Turki, Yordania, Inggris, Italia 

Axioma

Mebel jati

10 peti kemas

Eropa, Australia

Koloni Timur, PT

Mebel jati

5 – 6 peti kemas

Eropa, Asia, Australia

Erinco, CV

Lemari, meja jati

4 peti kemas

Belanda, Inggris

Hot Wax Furniture

Mebel jati luar dan dalam ruangan

4 peti kemas

Irlandia, spanyol

Kali Jaya Putra, PT

Mebel jati dalam ruangan, mebel rotan, parket

78 peti kemas

Amerika Serikat, Jepang, Korea, China, Hongkong, Perancis

Mariposa Jakarta, PT

Mebel jati keras

8 – 18 peti kemas

Eropa, Inggris

Mutina Jaya Abadi, PT

Mebel jati dalam dan luar ruangan

3 peti kemas

Austria

Puri Jepara Furniture

Mebel jati, mahogani dan bambu

15 peti kemas

Eropa, Afrika Selatan, Amerika Serikat

Rimba Sentosa, CV

Mebel kebun dan dalam ruangan dari jati

12 peti kemas

Perancis, Jerman, Yunani, Denmark

Roda Jati Solo, CV

Mebel jati

10 peti kemas

Eropa, Amerika Serikat

Safiya Furniture

Mebel kebun dan dalam ruangan dari jati

5 peti kemas

Eropa, Amerika Serikat

Sasana Antique

Mebel jati dan kayu

10 peti kemas

Eropa, Amerika Serikat

 

T O T A L *)

82 peti kemas

 

Sumber: Tinjauan Rantai Industri Mebel tanggal 16 Februari 2007.

*) Total dari perusahaan yang hanya memproduksi mebel dari jati.

Substitusi

Substitusi mebel dari kayu jati adalah mebel rotan dan mebel logam/plastik. Mebel kayu mengisi 75% ekspor, sementara mebel rotan dan logam/plastik menyumbang masing-masing 20% dan 5% (Tinjauan Rantai Industri Mebel tanggal 16 Februari 2007).

 

Strategi usaha

Strategi usaha yang perlu dilakukan oleh industri mebel adalah:

-          Menciptakan produk yang responsif terhadap permintaan pasar, khususnya pengembangan produk yang unik dan berdesain etnik.

-          Membangun dan menggunakan sumber-sumber pasokan bahan baku alternatif.

-          Investasi dan perbaikan teknologi.

 

Saluran pemasaran (Tinjauan Rantai Industri Mebel tanggal 16 Februari 2007)

·         Penyaluran ekspor umumnya dilakukan menggunakan surat kredit (L/C). Proses ekspor dimulai setelah seorang wakil dari perusahaan pembeli memeriksa contoh barang yang akan dikapalkan. Jika dapat diterima, pabrikan mebel menghubungi perusahaan pengantar barang untuk mengatur jadwal dan semua dokumentasi yang diperlukan bagi pengapalan.

·         Atas kesepakatan, peti kemas kosong dari perusahaan pengantar barang dibawa ke fasilitas pabrikan dan dimuati dengan barang jadi. Setelah penuh, truk diarahkan ke pelabuhan pengapalan tempat barang dibongkar dan diletakkan di kapal dagang. Ini biasanya titik di mana pembeli menerima tanggungjawab pengapalan, dalam pengaturan yang umum disebut “bebas setelah dimuat” (FOB—free on board).

·         Pengiriman barang lewat laut memakan 4-5 minggu untuk tiba di pelabuhan penerima (misalnya, Eropa, Amerika Serikat) dan dibongkar di dermaga. Setelah urusan kepabeanan, barang dimuat ke truk dan diantar ke gudang pembeli untuk pengantaran akhir ke toko-toko pengecernya. Biaya pengantaran di negara tujuan akhir beragam bergantung pada apakah perusahaan pengantar barang atau pembeli yang menanggungnya.

 

Pembeli utama

·         ASMINDO melaporkan pada tahun 2005, total nilai ekspor furniture adalah sekitar USD 1,79 milyar dimana negara tujuan ekspor mebel Indonesia yang utama adalah Amerika Serikat (37%), Jepang (12%), Inggris (8%) dan Belanda (8%), Jerman (7%), dan Perancis (7%). Selain itu, ekspor juga ditujukan ke negara-negara Italia, Belgia, Spanyol, dan Australia.

·         Data dari Bank Ekspor Indonesia (2007) menyebutkan Eropa merupakan pasar terbesar produk mebel dan kerajinan Indonesia, yakni sekitar 45%. Sisanya dikonsumsi oleh Amerika Serikat (36%), Timur Tengah (6%), dan Australia (4%).

·         Data dari Tinjauan Rantai Industri Mebel tanggal 16 Februari 2007 menyebutkan pasar ekspor mebel terbesar bagi Indonesia adalah Amerika Serikat (29,3%), diikuti oleh Jepang (9,6%), Belanda dan Inggris (masing-masing 6,47%).

      Gambar. Negara Tujuan Ekspor Mebel Indonesia 2005.

 

Sumber: Tinjauan Rantai Industri Mebel tanggal 16 Februari 2007.